Seperti rencana awalnya, Fikar mulai membicarakan tentang lomba yang sejak malam menjadi lalat di pikirannya. Pihak Sekolah menanggapinya dengan sangat baik, namun mereka lagi-lagi harus memikirkan soal biaya. Butuh dana yang cukup besar untuk membiayai pembuatan green house. Sehingga kin mereka kembali memikirkan cara untuk menutupi kekurangan mereka.

“Daur ulang!” ujar Fikar tiba-tiba.

Semua orang menatap Fikar dengan pertanyaan yang sama, “Kita akan memanfaatkan barang bekas untuk diolah. Kemudian kita jual, dan uang itu akan kita gunakan mencukupi kebutuhan pembuatan green house.”

“Itu tetap tidak akan cukup, Fikar!”

“Kita akan membuat proposal permintaan bantuan dana, dengan timbal balik saat green house kita jadi, para donatur akan menjadi pihak yang mendapatkan kehormatan dengan nama yang dipasang saat lomba.”

“Lalu bagaimana kalau kita kalah?”

“Kita akan berusaha untuk berjuang sebaik mungkin untuk meyakinkan mereka kita akan menang. Jangan dulu memikirkan kalah, karena kata kalah hanya akan membuat kita semakin pesimis.”

Semua mulai bergerak, beberapa siswa diwaktu luang membantu mengumpulkan barang bekas sebagai bahan baku produk mereka, yang lainnya berkonsultasi dalam membuat proposal pengajuan dana. Dan beberapa lagi mulai membenahi tempat untuk membuat green house.

Jam bergulir menjadi hari, hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, hingga kini mereka tiba saat hari penilaian.

Suasana yang asri terasa saat mulai memasuki ruangan. Terlihat bebagai macam warna dalam satu ruangan yang mendominasi penglihatan. Saat mendekat, para juri dibuat takjub dengan berbagai hasil daur ulang yang menjadi bagian dari green house yang dibuat oleh Fikar dan teman-temanya.

Berjalan keluar ruangan, lagi-lagi para juri takjub saat melihat berbagai macam tanaman merambat kini menghiasi sudut kantor. Saat berjalan kearah rooftop, juri merasa senang melihat apotik hidup yang berkembang dengan sangat baik. Sistem pengairan yang baik, pemberian pupuk yang tepat untuk semua tanaman terlihat sangat rapi dengan penataan yang sangat tepat.

Beberapa pekan kembali berlalu, kini tiba saat pengumuman berlangsung. Sekolah Fikar meraih posisi kedua, namun semua itu tetap menjadi hal yang membanggakan untuk mereka. Pertama kalinya berjuang bersama dan meraih kemenangan yang manis sebagai hasil dari usaha.

“Kau sangat berbakat, Fikar. Kerajinan tangan dari bahan daur ulang yang telah kau perkenalkan kepada kami, memiliki nilai jual yang sangat luar biasa. Mengapa tidak kau coba mengembangkannya?” tanya seorang guru kepada Fikar.

Fikar mencoba memikirkan saran dari gurunya. Perlahan ia mulai membangun usaha kecilnya. Bermodalkan gadget yang ia miliki, kini ia mulai memasarkan hasil karyanya. Usahanya perlahan dimulai, dan Fikar tak lagi harus meminta uang kepada ibunya, karena dari hasil penjualannya, ia mampu memenuhi kebutuhan sekolahnya.


Beberapa tahun kemudian.

“Hei anak kecil, kau berani sekali memerintah orang tua sepertiku! Kau ini belum lulus SD saja sudah berlagak begini ngomongnya!” ucap seorang pria berjas yang tidak lain adalah Pak Hamza.

“Ada apa ini?” tanya Fikar menengahi.

“Oh, kau. Beri tahu kepada anak ini, kalau ngomong dengan orang tua itu harus lebih sopan. Jangan menyuruh seakan dia ini tahu segalanya. Kalian anak-anak tidak tahu tata krama.”

“Apa yang kau katakan kepada beliau?”

“Aku hanya mengingatkan untuk mengambil sampah yang paman ini buang ke luar jendela mobilnya. Kakak tahu, baju seseorang tadi kotor karena air dari gelas yang ia buang. Bukannya minta maaf, paman ini malah memarahi ibu itu. Kata Ibu Guru, membuang sampah itu harus pada tempatnya, kalau tidak… akan terjadi banjir karena penyumbatan saluran air. Dan jika salah, kata Mama harusnya kita meminta maaf, bukan memarahi,” jelas anak kecil itu panjang lebar.

Seakan tertohok, kini ucapan gadis kecil itu berhasil membungkam Pak Hamza. Keangkuhannya seakan membutakan mata hatinya untuk menyadari tugas sederhana sebagai konsumen untuk membuang sampah pada tempatnya.

“Adik manis, pergilah!” pinta Fikar sambil tersenyum.

Fikar mengehembuskan napas kasar, “Aku yakin, sekarang kesombongan anda sudah terluka karena ucapan gadis kecil itu. Aku tak perlu memberi penjelasan yang panjang tentang ucapan anak itu.”

Pak Hamza hanya terdiam.

“Hanya ingin mengingatkan, jika anda paham posisi anda sebagai orang tua, bersikaplah sebagai orang yang dituakan dengan memberikan contoh yang baik. Bukankah anda mengaku sebagai orang yang berpendidikan? Maka bersikaplah sebagai orang benar-benar berpendidikan. Memutuskan bukan karena rasa tak suka atau suka, namun karena memang itu perlu. Dan belajarlah sedikit membungkuk, karena akan ada masa Bapak akan merasakan perputaran roda yang berada di bawah.”

Fikar telah sukses dengan usaha penjualan barang kerajinan dari barang bekas yang ia rintis dari sejak SMA. Setiap sebulan sekali, ia akan meminta rekannya untuk melakukan Baksos sebagai bentuk tindakan cinta terhadap lingkungan.

“Ibu Bapak, jika kalian ingin desa kalian aman dan terhindar dari banjir, maka lakukanlah hal sederhana ini, yaitu membuang sampah pada tempatnya. Jangan membuang sampah ke Sungai atau ke Selokan, itu akan memicu penyumbatan saluran air yang dapat menjadi banjir. Sadar atau tidak, bencana alam itu semua secara tidak langsung karena ketidak hati-hatian kita saat bersikap kepada alam,” jelas Fikar dengan hati-hati.

“Ibu bangga kepadamu, Fikar. Kau telah menjadi dewasa, menyikapi masalah dengan pemikiran yang perlu, bukan dengan emosi belaka,” ucap sang Ibu sambil memeluk erat putranya.

“Secantik apapun wadah yang kau tempati, takkan mampu menjamin berkembangnya dirimu jika bukan kau yang memulai untuk berusaha.”