Hening, tidak ada satu suara pun yang terdengar selama proses belajar berlangsung. Semua sibuk memperhatikan penjelasan dari guru sambil sesekali mereka membuka lembaran buku dan menulis beberapa kata di atas kertas kosong. Bel berbunyi beberapa menit kemudian, terlihat senyum lebar terukir cerah di wajah mereka.

“Minggu depan, sekolah akan mengadakan Baksos di desa maju mundur. Selain itu, kita akan membantu ibu-ibu PKK di sana untuk mulai mengembangkan home industri dengan tema daur ulang. Ibu mau kalian mulai membuat kelompok lalu pelajari 1 saja kerajinan dari barang bekas, kemudian kita ajarkan kepada penduduk di sana.”

Setelah menyampaikan pengumuman, beliau segera berlalu meninggalkan kelas. kelas perlahan menjadi riuh oleh diskusi ringan soal rencana Baksos mereka.
“Fikar, kau ikut kan pekan ini?” tanya Raka dengan antusias.
“Maaf, sepertinya tidak! Aku harus membantu ibuku saat akhir pekan. Dia sudah terlalu sering bekerja sendirian saat aku menunaikan kewajiban di hari-hari yang lainnya.”

Fikar seorang remaja sederhana yang mampu bersekolah karena beasiswa. Pelajar yang giat, aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, mengurangi angka ketidak hadiran adalah beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mempertahankan beasiswanya. Ia hanya hidup bersama ibu dan adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMP. Keluarga kecil sederhana yang pada akhir pekan sajalah mereka mampu berkumpul bersama-sama.


Langit Jingga perlahan mulai menghilang titik angin dingin mulai menyapa setiap pori-pori tubuh, sehingga siapapun yang merasakannya akan menggigil karenanya. Sayup-sayup mulai terdengar suara roda yang perlahan semakin mendekat. Fikar dengan Sigap melangkah mendekati pintu lalu membukakan pintu untuk sosok pahlawan hidupnya.

“Alhamdulillah, hari ini Ibu kembali tidak selarut biasanya,” ujar Fikar lega.

“Hari ini Pekerjaan ibu menjadi lebih ringan. Beberapa orang di lapangan membantu ibu dengan kegiatan Baksos mereka,” sahut sang ibu dengan senyum mengembang. 

Tidak ingin berlama-lama, Fikar segera meminta sang ibu untuk mulai membersihkan diri terlebih dahulu, beribadah lalu mulai menghabiskan waktu bersama di meja makan. Fikar segera kembali ke kamarnya, mulai bercengkrama dengan buku-buku tugasnya. Beberapa menit larut dalam fokus namun rasa kantuk berhasil membuatnya hingga larut dalam mimpi.

Matahari mulai bersinar manja, menyalurkan kehangatannya kepada setiap manusia yang baru saja melewati malam yang dingin bersama sinar rembulan. Seperti biasa, Fikar memilih untuk membantu ibunya di sepanjang perjalanan. Beberapa kali Fikar mencoba untuk mengambil alih pekerjaan ibunya, namun selalu saja ditolak.

“Bajumu akan kotor karena ini nantinya!” ucapnya menolak.

Langkah mereka terhenti saat melihat jarak Fikar dengan sekolahnya kini hanya tinggal sebuah jalan Raya. Dengan hikmat Fikar mencium tangan kasar dan keriput milik ibunya. Dengan lembut ia berucap salam dan menitip doa agar hari-harinya akan berjalan dengan lancar seperti biasanya.

Tidak seperti biasanya, kini semua orang menatap Fikar dengan tatapan yang cukup membuatnya merasa tidak nyaman. Beberapa orang berbisik setelah menatapnya, dan ada pula yang segera berjalan menjauh saat melihatnya. Tak ada lagi sapaan hangat seperti biasanya, senyuman yang mengembang kini hanya terlihat sebagai ejekan untuknya.

Baru saja Fikar ingin meletakkan tasnya, kini ia kembali dikejutkan dengan sebuah tulisan yang menegaskan tentang dirinya. Dengan langkah tenang, Fikar meraih penghapus yang tergeletak di atas meja. Perlahan Fikar menggerakkan tangannya seirama hingga mulai menghilangkan tulisan yang menurutnya akan membuat semua orang menjadi tidak nyaman. “Mengapa kau harus menghapusnya?” ujar seseorang yang membuat Fikar menghentikan aktivitasnya.

“Apakah kau malu karena semua orang mulai mengetahui dirimu yang sebenarnya?” lanjutnya mulai menyudutkan Fikar.

“Aku tidak menyembunyikan apapun, dan juga tidak melakukan sesuatu yang harus membuatku malu!” balas Fikar dengan tenang setelah meletakkan kembali penghapus yang ia pegang.

Fikar mulai meraih beberapa buah buku untuk menjadi temannya saat menunggu jam pertama dimulai. Guru mulai membuka pelajaran, dengan antusias beberapa siswa mulai menjawab pertanyaan dadakan yang diberikan oleh guru. Setelah penjelasan diberikan, kini saatnya mereka mulai mengerjakan tugas untuk melihat sejauh mana mereka memahami pelajaran yang telah diberikan. Bel istirahat telah berbunyi, dan menandakan kini waktunya bagi setiap siswa mulai mengistirahatkan otaknya.

“Raka, Jadi kapan kita akan melakukan tugas kelompok di rumahmu?” tanya Fikar.

” Maaf, Fikar mmm… Sebaiknya kau tak usah datang. Biar kami yang mengerjakannya. Kami tahu Kau pasti takkan bisa ke rumahku,” jelasnya sedikit berhati-hati.

Fikar menghembuskan napas berat, “Tenang saja, aku akan berusaha datang. Dan lagi, ini adalah tanggung jawab bersama, mana mungkin aku melemparkan kewajibanku kepada kalian begitu saja!” 

” Ah Sudahlah Fikar. Kau tak usah bertele-tele dengan memberikan alasan seperti itu. Dengar ya, Fikar! Teman-teman yang lain tidak nyaman denganmu, jadi sebaiknya kau tak usah datang untuk mengerjakan tugas hari ini. Kami tetap akan menerakan namamu, tapi tolong jangan datang. Sebaiknya kau pergi dan membantu ibumu untuk memulung sampah!” jelas Andika to the point.

Fikat hendak mengumpat dan mengekspresikan kemarahannya, namun dengan cepat ia menurungkan emosinya dan menghembuskan napas berat.

“Kalian tak perlu menulis namaku dalam laporan nanti. Aku tak mau menjadi sosok penerima hasil tanpa bekerja seperti kalian. Karena bukan hasil yang akan kita hargai, namun proses menggapai hasil itu.”

“Sombong sekali!” cibir salah satu diantara mereka.

Fikar tidak bisa memungkiri, betapa hancurnya perasaannya hari ini karena rasa kecewa. Bukan karena penolakan yang ia dapatkan, namun karena ketidak pedulian yang ia lihat dari sosok seorang Raka yang telah menjadi temannya sejak saat mereka menjalankan MOS.

Hari-hari berlalu dengan kejadian yang sama. Kini semua orang tak lagi memandang Fikar sebagai orang yang sama, namun sebagai sosok yang menjijikan karena latar belakang yang ia miliki. Semua siswa mulai menjauhinya, hingga para guru pun mulai merasa resah.

“Kau tahu mengapa Bapak memanggilmu ke sini?”

Fikar hanya terdiam.

“Aku memanggilmu sehubungan dengan masalahmu dengan siswa lainnya. Kau tahu, sekolah ini adalah yayasan yang mengandalkan dana dari para donatur. Kehadiranmu pun adalah salah satu bukti kebaikan hati mereka. Sehingga, para siswa yang merupakan anak dari para donatur, melaporkan ketidaknyamanannya terhadapmu. Mereka memilih menarik beasiswamu, tetapi tenang saja, kau akan dimasukkan ke sekolah lain untuk …”

“Terima kasih, Pak. Tapi tolong sampaikan kepada mereka, aku akan menerima keputusan ini jika mereka ingin sekali saja bertemu denganku!”

“Jangan meminta hal yang tidak mungkin. Mereka adalah orang sibuk yang tidak bisa datang begitus saja untuk menemui kita.”

“Itu adalah syarat dariku untuk hasil berupa pertaruhan masa depanku!”

Fikar berjalan lesu meninggalkan ruangan Kepala Sekolah, dengan air mata yang tentu saja mulai menghiasi sudut matanya. Bayangan senyum Ibunya, Adiknya, impian dan cita-cita yang ia rangkai dengan rapi, kini telah pupus hancur menjadi kepingan impian.

“Fikar! Kau…?”

“Jangan, Raka! Jangan pernah berkata apapun yang hanya akan membuaiku untuk semakin bermimpi. Harapan awalku, hanya ingin bersekolah dan lulus dari sekolah ini. Tidak lebih!”

Fikar kembali melangkahkan kakinya, namun baru beberapa saat ia berjalan tubuhnya limbung menghantam dinginnya lantai. Fikar tersadar dengan pemandangan yang khas dari ruang UKS. Perlahan ia mulai mengubah posisinya, namun kepalanya terasa berdenyut cukup kuat hingga membuatnya memekik cukup keras.

“Kau sudah sadar?” suara berat yang terdengar dari seorang pria berjas hitam.

“Aku mendengar permintaanmu kepada Kepala Sekolah untuk bertemu dengan pemilik Yayasan. Namun itu tidak perlu, karena aku saja sudah cukup untuk mewakili mereka! Aku adalah Hamza, ayah dari teman kelasmu Andika.”

“Terima kasih atas kesediaan anda menemui saya. Tetapi boleh saya tahu alasan yang membuat anda berperilaku tidak adil seperti ini terhadap saya?”

“Kami tidak ingin mencoreng nama baik sekolah dengan menyekolahkan orang sepertimu disini. Maka dari itu, kami memutuskan untuk memindahkanmu dengan tetap membiayai semua kebutuhanmu di Sekolah lainnya nanti.”

“Baiklah, aku akan menerima semua keputusan kalian!”

Fikar menelan egonya dan menerima keputusan pihak donatur dengan sangat terpaksa. Ia memiliki impian yang harus ia perjuangkan, ia tidak mau menjadi egois hanya karena rasa sakitnya. Hari-hari berlalu dengan cerita yang berbeda. Di sekolah yang lebih sederhana, Fikar mulai mengukir prestasinya. Perlahan ia mulai menunjukkan kemampuannya dalam berbagai hal. Rasa sakit, kekecewaan tak ingin ia pikirkan lebih lama. Ia hanya ingin menunjukkan kemampuannya untuk membungkam semua orang yang telah memandangnya sebelah mata.

Prestasi yang paling memukau telah berhasil Fikar raih dengan mengalahkan utusan dari sekolahnya dahulu yaitu Andika dalam lomba debat bahasa inggris. Seakan ingin tertawa puas melihat keangkuhan Andika, perlahan berhasil ia runtuhkan. Namun Fikar sadar, itu bukanlah sikap yang perlu ia tunjukkan.

“Ibu bangga padamu, kau berhasil memenangkan perlombaan dan mengharumkan nama sekolah kita!”

“Ini semua berkat-Nya dan bimbingan Ibu!”

Malam semakin larut, namun rasa kantuk tak juga menghampirinya. Fikar mendapatkan hadiah ponsel dari pihak sekolah sebagai bentuk penghargaan untuk prestasinya. Tatapannya terus fokus ke arah layar. Ia tak henti-hentinya memikirkan tentang perlombaan yang diadakan oleh pemerintah untuk menyambut hari bumi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membincangkannya dengan pihak sekolah pada esok harinya.


Bersambung…

By : Somplaker